PALANGKA RAYA – Semangat inklusivitas dan pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui pelaksanaan Lomba Tari Tradisional Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) 2026 yang akan digelar di Aula Gedung Hotel Dandang Tingang, Palangka Raya.
Kegiatan bertema “Berakar Pada Budaya, Bertumbuh Dalam Kreasi Penuh Semangat Huma Betang” tersebut menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak berkebutuhan khusus dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah untuk menunjukkan potensi terbaik mereka melalui seni tari tradisional.
Peserta lomba berasal dari berbagai kategori anak berkebutuhan khusus, seperti tunarungu, tunagrahita, autisme, hingga down syndrome dengan rentang usia 12 hingga 17 tahun. Seluruh peserta juga diwajibkan mengikuti parade tari pembukaan menggunakan busana etnik khas Kalimantan Tengah.
Made Pujangga menilai filosofi Huma Betang menjadi nilai utama dalam kegiatan tersebut karena mengajarkan kebersamaan, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman.
“Ini adalah bentuk nyata bahwa setiap anak adalah bintang yang bersinar dengan cahayanya masing-masing. Melalui seni tari, mereka mengekspresikan diri sekaligus melestarikan budaya leluhur,” ujarnya.
Sebanyak 14 Sekolah Khusus Negeri di Kalimantan Tengah dijadwalkan mengikuti kegiatan tersebut, termasuk SKHN 1 Pulang Pisau yang telah mempersiapkan peserta secara intensif.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin percaya diri untuk terus berkarya dan menunjukkan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki potensi besar untuk berprestasi sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya daerah.
Pelaksanaan lomba tersebut juga menjadi wujud komitmen dalam membangun ruang pendidikan dan kebudayaan yang inklusif bagi seluruh anak di Kalimantan Tengah tanpa terkecuali. (DIN)





