TANGERANG – Di hadapan para menteri dan kepala daerah se-Indonesia, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah H. Edy Pratowo tidak hanya berbicara soal angka dan perangkat teknologi. Ia bercerita tentang anak-anak sekolah di pedalaman, yang dulu harus menempuh perjalanan panjang menyusuri sungai, kini bisa belajar dengan papan tulis digital dari ruang kelas sederhana.
Mewakili Gubernur H. Agustiar Sabran, Edy Pratowo memaparkan praktik digitalisasi pembelajaran Kalteng pada Rapat Koordinasi Kepala Daerah terkait Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Kamis (13/11/2025). Paparan tersebut mendapat perhatian khusus karena Kalteng dikenal sebagai provinsi dengan wilayah sangat luas dan tantangan akses pendidikan yang tidak ringan.
“Untuk mencapai beberapa sekolah, guru dan siswa harus menempuh perjalanan berjam-jam. Bahkan ada yang bergantung pada jalur sungai. Di situlah kami sadar, pendidikan tidak bisa menunggu infrastruktur sempurna. Digitalisasi harus datang lebih dulu,” ujar Edy Pratowo.
Cerita itu bukan sekadar narasi. Sejak 2024 hingga 2025, Pemprov Kalteng telah mendistribusikan lebih dari 5.000 papan tulis interaktif ke SMA, SMK, dan Sekolah Khusus. Di wilayah yang belum terjangkau listrik dan internet, sekolah dibekali panel surya dan jaringan satelit. Bagi guru di pedalaman, teknologi ini mengubah cara mengajar; bagi siswa, membuka jendela dunia yang sebelumnya terasa jauh.
Digitalisasi juga membawa perubahan pada harapan masa depan siswa. Selain ijazah, lulusan SMA dan SMK kini dibekali sertifikat kompetensi digital, mulai dari analisis data hingga pemasaran digital. “Kami ingin anak-anak tidak hanya lulus, tapi siap bekerja atau melanjutkan pendidikan,” kata Edy.
Di sela pemaparan, para peserta rakor menyimak dengan hening. Bagi banyak daerah, kisah Kalteng bukan hanya soal kebijakan, melainkan tentang keberanian menghadirkan pendidikan yang adil bagi anak-anak di tepi sungai, di desa-desa terpencil, dan di ruang kelas yang selama ini jauh dari sorotan.
Bagi Kalimantan Tengah, digitalisasi pembelajaran bukan sekadar proyek teknologi. Ia adalah jembatan kecil yang menghubungkan mimpi anak-anak pelosok dengan masa depan yang lebih luas—dan itu, kata Edy Pratowo, adalah investasi paling manusiawi yang bisa dilakukan pemerintah. (AB)




