PANGKALAN BUN – Bagi sebagian orang, meja dan kursi sekolah mungkin hanya perabot biasa. Namun bagi SMK Negeri 2 Kumai, kehadiran puluhan set meubelair baru menjadi penanda penting: perhatian negara yang akhirnya benar-benar menyentuh ruang kelas.
Selama beberapa tahun terakhir, aktivitas belajar mengajar di SMKN 2 Kumai berlangsung dengan keterbatasan. Sejumlah meja dan kursi siswa sudah tak lagi layak digunakan. Ada yang goyah, ada yang rusak, bahkan tidak sedikit yang harus digunakan secara bergantian. Kondisi itu pelan-pelan menggerus kenyamanan belajar, meski semangat siswa dan guru tetap bertahan.
Situasi tersebut kini mulai berubah. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Pendidikan menyalurkan bantuan 35 set meja dan kursi siswa, 7 set meja dan kursi guru serta staf, serta 2 unit lemari. Bantuan ini menjadi angin segar bagi sekolah kejuruan yang berada di wilayah pesisir Kabupaten Kotawaringin Barat tersebut.
Kepala SMKN 2 Kumai, Hestina Windiyati, tidak menutupi rasa harunya saat bantuan itu tiba. Ia menyebut, bantuan tersebut bukan sekadar pemenuhan fasilitas, melainkan bentuk kepedulian nyata terhadap proses pendidikan di daerah.
“Meja dan kursi siswa kami memang sudah banyak yang rusak. Bantuan ini datang di saat yang sangat tepat. Kami merasa diperhatikan,” ujar Hestina, Senin (11/11/2025).
Menurutnya, ruang belajar yang layak memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pembelajaran. Ketika siswa duduk dengan nyaman dan guru dapat mengajar tanpa kendala fasilitas, proses transfer ilmu menjadi lebih optimal.
Tak hanya untuk siswa, bantuan juga menyasar kebutuhan tenaga pendidik dan staf sekolah. Meja kursi baru untuk guru serta lemari penyimpanan membantu menata administrasi dan perangkat pembelajaran yang selama ini terbatas.
Hestina menilai perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur H. Agustiar Sabran bersama Dinas Pendidikan Provinsi telah memberi harapan baru bagi sekolah-sekolah kejuruan.
“Banyak bantuan yang sudah kami terima, dan semuanya sangat bermanfaat. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Kalimantan Tengah,” tuturnya.
Namun, tantangan pendidikan tidak berhenti pada sarana fisik. Di tengah arus digitalisasi, SMKN 2 Kumai juga menghadapi kebutuhan mendesak akan pembaruan perangkat teknologi, terutama untuk mendukung kompetensi siswa.
Sekolah ini memiliki program keahlian Desain Komunikasi Visual (Multimedia) yang menuntut perangkat komputer mumpuni. Sayangnya, sebagian perangkat yang dimiliki sudah tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pembelajaran terkini.
“Kami berharap ke depan ada bantuan komputer untuk mengganti perangkat lama. Digitalisasi pendidikan sangat penting, terutama bagi SMK yang menyiapkan siswa langsung ke dunia kerja,” ungkap Hestina.
Bantuan meubelair yang diterima SMKN 2 Kumai menjadi bagian dari upaya lebih besar Pemprov Kalteng dalam memperkuat sarana dan prasarana pendidikan di seluruh daerah, termasuk wilayah yang secara geografis tidak selalu berada di pusat perhatian.
Di ruang-ruang kelas sederhana itulah, kebijakan pendidikan diuji. Bukan lewat pidato, tetapi lewat meja tempat siswa menulis cita-cita, kursi tempat mereka duduk menatap masa depan, dan perhatian yang membuat mereka merasa tidak dilupakan. (AB)





